Jemput Bola E-KTP di RSJ Menur, Tjipto Menangis Seusai Sidik Jari Direkam


HARUS TELATEN: Pegawai dispenduk Cherie Arfan (kiri) merekam sidik empat jari Arif, pasien RSJ Menur. Petugas dispenduk gencar melakukan jemput bola untuk menuntaskan program e-KTP.

 

Tjipto ketakutan saat diminta menempelkan jarinya ke alat perekam sidik jari. Pria 22 tahun itu meronta sambil menangis.

Tjipto adalah penderita gangguan jiwa yang mengikuti perekaman e-KTP pada Kamis (13/10) di RSJ Menur. Tjipto termasuk pasien yang sulit mengikuti tahap demi tahap perekaman e-KTP.

Bukan hanya saat tahap perekaman sidik jari, dia juga menolak menjalani proses tanda tangan. Tangannya gemetar saat harus memegang bolpoin elektronik.

’’Ayo ditekan, ndang wis ndang muleh. Nek gak mari engkok gak muleh-muleh loh,’’ ujar petugas RSJ Menur yang membujuk Tjipto. Saat duduk untuk sesi pemotretan, Tjipto susah diatur.

Dia tidak mau menghadap kamera. Petugas dari dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil) sampai harus memperlakukannya seperti balita.

’’Ayo lihat sini, Mas. Lihat ini ada apanya?’’ ujar seorang petugas perempuan. Rayuan itu sempat membuat Tjipto tergoda melihat ke arah depan.

Tapi, begitu lampu kamera menyala, dia kembali memalingkan pandangan. Hasil pemotretan pun tidak maksimal. Petugas harus mengulanginya.

Butuh waktu ekstra untuk merayu Tjipto agar bersedia menjalani tahap demi tahap perekaman e-KTP. Cerita lain datang dari pasien RSJ Menur bernama Syamsul.

Dia menjalani perekaman e-KTP di atas kursi roda. Kondisi Syamsul tampak belum stabil. Botol dan slang infus masih terlihat di tangan kirinya.

Sembari menunggu perekaman e-KTP, Syamsul tidak henti-hentinya membaca doa dengan suara lirih. Dia tampak tegang. Ibunya terus membujuk bahwa petugas hanya mendata, tidak melakukan tindakan medis.

Begitu mengerti petugas hanya melakukan perekaman e-KTP, Syamsul terlihat lebih tenang. Dia bahkan bernyanyi saat diminta menempelkan jarinya ke alat perekaman.

’’Ayo, Mas, ganti jempol kirinya yang ditempel,’’ pinta Ronny Novianto, petugas dari subbag umum dan kepegawaian dispendukcapil.

Permintaan Ronny dituruti Syam sambil bernyanyi, ’’Jempol kiri di langit yang tinggi, menghias angkasa.’’ Nyanyian spontan itu mengundang gelak tawa petugas.

Ronny mengatakan, dispenduk sebenarnya sudah lama berkoordinasi dengan RSJ Menur untuk melakukan jemput bola perekaman e-KTP. RSJ Menur sempat menyerahkan 84 nama pasien.

Namun, dispenduk harus terlebih dahulu mencari nomor induk kependudukan (NIK) para pasien tersebut. Di antara 84 pasien, ternyata hanya enam orang yang memiliki NIK.

Menurut Ronny, hal itu bisa terjadi karena saat masuk ke RSJ Menur, keluarga tidak menyertakan dokumen kependudukan. Entah KTP atau kartu keluarga (KK).

Untuk menelusuri NIK pasien, dispenduk terpaksa turun langsung ke alamat pasien dengan bantuan kelurahan dan kecamatan.

Di antara enam pasien yang dijadwalkan menjalani perekaman e-KTP, ternyata hanya tersisa empat orang. Direktur RSJ Menur Adi Wirachjanto mengatakan, dua pasien lain sudah pulang.

’’Ada yang rawat jalan, ada yang dibawa ke rehabilitasi sosial,’’ tuturnya. Biasanya pasien menjalani perawatan di RSJ Menur tak lebih dari 24 hari.

Adi menambahkan, hak-hak orang dengan gangguan jiwa tetap harus diberikan. Termasuk mendapatkan dokumen kependudukan.

’’Sebab, mereka ini kan nanti juga bisa sembuh. Kasihan kalau sudah sembuh, tapi tak punya identitas kependudukan,’’ ungkapnya.

Secara terpisah, Kepala Dispendukcapil Surabaya Suharto Wardoyo mengatakan, pihaknya berupaya jemput bola untuk menyelesaikan perekaman e-KTP.

Dispenduk menyiapkan satu tim khusus untuk mendatangi warga. Khususnya warga lansia atau yang mengalami masalah dengan kesehatan. Sebelumnya, dispenduk juga mendatangi panti wreda di Medokan Semampir.

Di sana, ada 28 lansia yang telah terlayani perekaman e-KTP. ’’Kemarin e-KTP-nya sudah tercetak dan kami serah terimakan,’’ ujar pejabat yang biasa disapa Anang tersebut.

Tim dispenduk juga telah melayani tiga pasien RSUD dr Soewandhie. Selain itu, petugas mendatangi rumah 26 lansia yang belum terlayani perekaman e-KTP.

’’Mereka kami datangi atas permintaan keluarganya,’’ ujar Anang.

Mantan Kabag Hukum Pemkot Surabaya itu berharap pengurus RT dan RW aktif membantu melaporkan warganya yang belum merekam e-KTP, terutama yang kondisinya sakit dan lansia.

’’Biar tim kami nanti yang mendatanginya,’’ imbuhnya.

Sumber :  Jawa Pos

Share this post

No comments

Add yours