Kegiatan Pasien Psikotik di RSJ Menur untuk Persiapan Mandiri


PAMER KARYA: Anita (kanan) dan Tina memamerkan karya mereka Selasa (21/3) di ruang rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa Menur.

Marah-marah, suka mengamuk, bau, kotor, dan sifat-sifat buruk lain sering dilekatkan kepada penyandang psikotik. Namun, pemandangan lain terlihat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Mereka yang mengalami gangguan kejiwaan diajari untuk mandiri, mengurus diri sendiri. Untuk mempersiapkan kehidupan mereka di luar rumah sakit.

 

IBU polisi, ya? Polisi intel, ya?” sapa pria 25 tahunan itu sambil menepuk bahu wartawan koran ini. Dia memakai baju warna cokelat. Di dadanya, tertulis ”RSJ Menur”. Sama dengan orang-orang yang berada di ruangan berukuran 4 meter x 9 meter itu.

Jantung Jawa Pos langsung berdegup kencang ketika berbalik badan dan menghadap pria yang menepuk bahu itu. Takut. Khawatir kalau akan terjadi hal buruk. Namun, pria tersebut malah tersenyum lebar, lalu mengajak untuk high five, salam dengan tepukan tinggi.

”Saya dulu pernah mau daftar tentara. Tidak diterima karena hepatitis,” tuturnya bersemangat dengan logat Indonesia Timur.

Pria itu mengaku bernama Melki. Dia baru semalam menginap di RSJ Menur. Sebelumnya, dia tinggal di Malang. Asalnya Flores.

Ketika ditanya kenapa dibawa ke RSJ Menur, Melki hanya tertawa. Walaupun bisa diajak bicara dengan normal dan cenderung terlihat tenang, dia tidak bisa keluar dari Ruang Wijaya Kusuma tersebut. Dia masih butuh pemantauan dari tim medis.

Ruang Wijaya Kusuma memang digunakan untuk isolasi. Ruangan tersebut berbentuk seperti rumah pada umumnya. Ada pintu dan jendela. Tidak ada terali besi atau alat pasung.

Di luar ruangan, ada meja kayu yang dikelilingi tujuh kursi. Semuanya terisi. Namun, orang-orang yang duduk tidak berinteraksi. Melamun.

Sementara itu, di dalam ruangan ada sekitar 30 tempat tidur. Tidak semua tempat tidur berpenghuni. Yang masih berada di atas kasur, rata-rata kaki dan tangannya diikat. Mereka masih agresif dan membahayakan pasien lain jika ikatan dilepas.

Ruang isolasi memang digunakan untuk pasien yang masih agresif. Rata-rata yang berasal dari instalasi gawat darurat (IGD) atau poli rawat jalan akan masuk ke ruang tersebut. Selain digunakan untuk assessment, ruangan tersebut dipakai untuk memberikan terapi agar penghuni baru bisa tenang.

”Penghuni di sini unpredictable,” tutur Shodikin. Kepala Seksi Perawatan RJS Menur itu ditugaskan untuk mendampingi Jawa Pos melihat terapi penderita psikotik atau gangguan jiwa.

Ada beberapa tahap yang akan dijalani mereka yang ”menginap” di rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut. Sebagai ruangan untuk pasien dengan kondisi psikis yang masih labil, Wijaya Kusuma memiliki penjagaan paling rapat.

Setelah keluar dari ruang isolasi, Shodikin mengajak ke ruang rehabilitasi. Letaknya beberapa blok di utara ruang isolasi. Di ruang rehabilitasi, lebih banyak pernak-pernik.

Ada ratusan bendera merah putih kecil yang dipasang pada tali yang membentang di langit-langit ruangan. Cat tembok yang berwarna kuning tampak lebih semarak dengan tempelan stiker dinding. Berbeda dengan Wijaya Kusuma, ruang rehabilitasi lebih terlihat bebas. Penghuninya boleh keluar-masuk.

Begitu masuk ke ruang rehabilitasi, ada alat untuk latihan berjalan. Ada juga dua sepeda statis. Alat-alat tersebut memang digunakan untuk melatih saraf motorik pasien. Di tengah ruangan, ada meja pingpong yang terlihat masih baru. Dua petugas tengah asyik bermain.

Di kanan-kiri ruang rehabilitasi, terdapat etalase dari kaca yang memamerkan kerajinan. Ada topeng hias, kipas, bunga plastik, keset, serta patung Cak dan Ning yang terbuat dari flanel.

Seluruh kerajinan yang dipamerkan merupakan buatan pasien RSJ Menur. Setiap Senin hingga Rabu, ada terapi pelatihan kerja untuk mereka. Ada pelatihan menjahit, membuat kemoceng, menjahit, dan membuat anyaman. Terkadang juga ada kegiatan mewarnai topeng dan membuat bunga dari plastik.

Selasa (21/3) adalah saat membuat anyaman untuk wadah pecel. Sepuluh pasien perempuan asyik menganyam. Mereka mengenakan seragam berwarna hijau. Ada yang secara mandiri memasukkan anyaman. Ada yang harus didampingi. Ada pula yang hanya diam. Capek. Kalau mereka sudah capek, terapis pun tidak berani memaksa.

Tina dan Anita merupakan dua orang yang bersemangat. Dua pasien yang mengaku dari Surabaya itu mengikuti instruksi yang diberikan walaupun pandangan mereka masih terlihat kosong. Saat memasukkan tali plastik untuk anyaman, mereka harus dipandu. Bentuknya memang tidak rapi. Terkadang malah salah dalam memasukkan urutan. Ketika ditegur, mereka segera membetulkan. Tetapi, Musri dan Dyah Rindang, para terapis, tetap memberikan semangat. Mereka tampak sabar ketika mengajari seluruh pasien.

”Yang di sini itu sudah tergolong tenang,” tutur Rindang. Terapi kerja itu memang digunakan untuk menyiapkan pasien yang akan dipulangkan ke keluarga. Artinya, pasien sudah melewati masa isolasi.

Mereka akan memilih keterampilan yang disukai. Pasien memang tidak dipaksa untuk menyelesaikan pekerjaannya. Yang terpenting, para pasien memiliki kegiatan.

Tina maupun Anita memang tidak banyak bicara. Mereka menjawab apa yang ditanyakan. Kalau pertanyaannya agak panjang dan rumit, mereka diam.

Terapi kerja diajarkan agar pasien memiliki bekal usaha ketika keluar dari rumah sakit. Bukan hanya itu, terapi tersebut juga bertujuan melatih kreativitas pasien. Mereka dilatih untuk sabar dan telaten. Mereka belajar mengontrol emosi.

Selain itu, ada aturan yang harus mereka taati. Misalnya soal jumlah plastik yang harus dianyam. Plastik berwarna merah muda harus berjumlah 12. Kalau kelebihan, tidak akan simetris warna merah muda dan putihnya. Artinya, mereka harus mengulangi.

Pasien biasanya mulai masuk ke ruangan rehabilitasi pada pukul 08.00. Sebelumnya, mereka mandi dan makan secara mandiri. Di rumah sakit tersebut, pasien memang diajari hidup bersih. Ada perawat yang bertugas mengawasi agar mereka mandi dan buang air pada tempatnya.

Beberapa minggu sekali rambut pasien akan dirapikan. Bagi pasien laki-laki, kumis dan jenggot juga dirapikan. Pasien perempuan sehabis mandi juga menggunakan bedak. Semua mereka lakukan secara mandiri.

”Selama saya di sini, pasien yang ikut latihan kerja tidak ada yang ngamuk,” tutur Musri, perawat rehabilitasi RSJ Menur. Sehari-hari perempuan 53 tahun itu memang mendampingi pasien psikotik yang mengikuti latihan kerja maupun terapi lain. Para pendamping memang dituntut untuk mengetahui kondisi pasien. Ketika mood pasien sedang tidak bagus atau memang pasien sudah capek, kegiatan dihentikan.

Selain terapi kerja, setiap Kamis mereka menjalani terapi religi dan menyanyi. Untuk Jumat, pasien mengikuti olahraga bersama.

Terapi yang diberikan kepada pasien menunjang penyembuhan. Kegiatan nonmedis dan medis harus bersinergi. Danang Setyo Budi, psikolog RSJ Menur, menuturkan bahwa terapi yang diberikan di rumah sakit harus berkelanjutan meski pasien pulang. Selama ini, masih banyak keluarga yang malu ketika memiliki kerabat yang mengidap gangguan psikotik. Akibatnya, pasien diasingkan. ”Hal tersebut yang mengakibatkan kondisi pasien kembali memburuk. Akhirnya, ada pasien yang harus kembali dirawat di RSJ,” ucap pria 30 tahun tersebut.

Sumber : Jawa Pos

Share this post

No comments

Add yours