Saat 47 Eks Orang dengan Gangguan Jiwa Ikut Jambore, yang Mereka Rasakan Bikin Trenyuh


Syahri Ramdhan (34) tampak gembira mengikuti kegiatan Jambore Kesehatan Jiwa Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Bumi Perkemahan Rumah Sakit Paru Dungus, Kabupaten Madiun, Sabtu (14/10/2017) siang.

Syahri merupakan satu di antara 47 peserta Jambore Kesehatan Jiwa yang digelar oleh Tim Penanggulangan Masalah Pasung Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Komunitas Keperawatan Jiwa Jawa Timur.

Jambore Kesehatan Jiwa yang ke-2 ini digelar dua hari, Jumat 13 Oktober dan 14 Oktober 2017.

“Senang, pikiran lebih fresh, banyak teman. Kalau di rumah tidak ada teman,” kata Syahri saat ditemui di sela-sela acara.

Pria lulusan MTS ini mengaku sangat senang mengikuti beragam kegiatan jambore. Di antaranya membuat ketrampilan dan kesenian, outbound, dan kegiatan hiburan.

“Paling senang waktu karaoke, sangat menghibur,” katanya.

Syahri mengatakan, sekitar lima tahun lalu ia mengalami gangguan jiwa.

Awalnya ia dituduh mencuri rumput oleh tetangganya, hingga menyebabkan dirinya mengalami depresi.

“Dulu saya dituduh maling rumput, saya ngamuk kemudian di bawa ke rumah sakit Menur Surabaya,” kata klien ODGJ ini.

Ketua Pelaksana, Komarudin, mengatakan Jambore Kesehatan Jiwa ODGJ setiap tahun digelar dan tahun ini kedua.

Tujuan kegiatan ini untuk memberi kesempata bagi para klien ODGJ bersosialisasi.

“Tujuannya, memberikan kesempatan kepada klien ODGJ agar dapat berbaur dengan klien ODGJ dari daerah kain,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai perawat kesehatan jiwa ini.

Komar mengatakan, kemampuan sosialisasi atau berhubungan dengan orang lain sangat penting.

Harapannya, para klien ODGJ tidak merasa sendiri dan memiliki masalah sendiri.

Supaya mereka memiliki rasa percaya diri bahwa mereka dapat diterima. Dalam tanda kutip yang lain dari mereka, banyak yang masih peduli,” katanya.

Selain itu, Jambore Kesehatan Jiwa juga merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi Dinkes Jawa Timur terhadap para tenaga kesehatan di kota/kabupaten di Jawa Timur.

Dikatakan Komar, masing-masing kota/kabupaten mengirimkan perwakilan terdiri dari lima klien ODGJ, tiga kader kesehatan dan dua orang tenaga kesehatan.

Klien ODGJ merupakan mantan orang yang mengalami gangguan jiwa dan dipasung.

“Kami juga mengajak institusi keperawatan, mahasiswa dan dosen,” ujarnya.

Ia menuturkan, selama mengikuti jambore, para peserta tidur di tenda atau camp yang sudah disediakan panitia.

Sedangkan kegiatan selama dua hari diisi dengan lomba ketrampilan, seminar, outbound dan juga hiburan.

Ia berharap, dengan acara jambore selain memberi kepercayaan diri terhadap klien ODGJ, juga dapat menunjukan bahwa ODHJ juga bisa diterima.

“Stigma masyarakat bahwa ODGJ iu berbahaya itu harus menurun. Dengan kegiatan ini, kami ingin menunjukan bahwa ODGJ bisa diterima di masyarakat,” imbuhnya.

Data terkahir tahun 2016, di Jawa timur terdapat ODGJ Pasung. Sebagian di antaranya telah mendapat perawatan dan sembuh.

Sumber : Tribun

Share this post

No comments

Add yours