28 Tahun Mengabdi, Sabar dan Telaten Jadi Kuncinya


Rochani, S.Kep, NS, Kepala Ruangan Wijaya Kusuma (tiga dari kanan).

SURABAYA – Mencintai pekerjaan menjadi salah satu alasan bagi seseorang mampu menjalani pekerjaan tersebut hingga puluhan tahun lamanya. Meski tergolong berat sekalipun, namun karena sudah terlanjur cinta maka ia mampu menjalani pekerjaan tersebut dalam waktu yang relatif lama. Gambaran ini rasanya tepat bila mengisahkan perjalanan hidup Rochani, S.Kep, NS, saat mengabdikan diri di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Wanita berhijab ini mampu bertahan hingga 28 tahun lamanya di RSJ Menur.

“Saya bekerja disini mulai tahun 1989, saat periode direktur yang pertama bapak Prof Moeljono. Meski awalnya tak mempunyai background sebagai perawat pasien jiwa tapi karena panggilan hati saya mampu bertahan hingga puluhan tahun disini,” ujarnya saat mulai mengisahkan perjalanan karirnya di RSJ Menur.

Rochani sendiri memang merupakan jebolan sekolah perawat RSUD Dr. Soetomo. Meski backgroundnya sebagai perawat umum, toh nasib membawanya bekerja sebagai perawat pasien gangguan jiwa di RSJ Menur. Karena tak ada background khusus tentang perawat pasien jiwa jadilah Rochani merasa kesulitan diawal menjalani pekerjaannya.

“Baru lulus sekolah perawat dan langsung ditempatkan disini (RSJ Menur,red) dan merawat pasien perempuan awalnya, tanpa background khusus perawat pasien jiwa tentu bisa dibayangkan bagaimana beratnya saya menjalani pekerjaan ini di awalnya,” kisah wanita yang kini ditempatkan sebagai Kepala Ruangan Wijaya Kusuma RSJ Menur.

Rasa takut pun kerap menyeruak dalam diri Rochani saat awal menjalani profesi sebagai perawat RSJ Menur. Takut karena harus berinteraksi dengan pasien gangguan jiwa. Kejadian tak mengenakkan pun pernah dialami ibu satu anak ini diawal pekerjaannya.

“Saya pernah dimandikan pasien, tadinya saya yang akan memandikannya lha kok malah saya yang dimandikan. Takutnya bukan main saya waktu itu sampai menjerit minta tolong,” kenangnya seraya tersenyum.

Dikisahkan Rochani, pasien yang memandikannya tersebut merupakan pria berkebangsaan Australia yang menjadi penghuni RSJ Menur karena masalah rumah tangganya. Meski pernah mendapat perlakuan kurang mengenakkan, namun diakui Rochani jika pasien tersebut sangat baik kepadanya.

“Diawal-awal memang agak susah dia berinteraksi dengan saya, bahkan ngomong pun hanya mau lewat tulisan. Tapi saya terus bersabar merawat dia, saya telateni, lama kelamaan saya bisa dekat dengan dia. Saya malah sering ditraktir, dikasih uang. Bahkan saat saya harus ke Lawang untuk menempuh pendidikan perawat jiwa, dia ngasih saya uang saku,”kisah Rohani.

Diakui Rochani, sabar dan telaten menjadi kunci utama baginya dalam merawat para pasien gangguan jiwa. Satu poin lagi yang tak pernah dilupakan Rochani dalam menjalankan tugasnya merawat para pasien jiwa yakni memperlakukan mereka sebagaimana mestinya tanpa memandang sebelah mata.

“Para pasien jiwa yang sudah sembuh dan kembali ke keluarga seringkali kambuh karena keluarga kerap tidak mendukung, terkadang mereka diperlakukan tidak semestinya oleh keluarga. Ini yang seharusnya tidak boleh dilakukan agar mereka (para pasien jiwa,red) tidak kambuh lagi,” tukasnya.

Meski dirasakan cukup berat saat awal menjalani profesinya sebagai perawat pasien jiwa, namun seiring berjalannya waktu Rochani bisa ‘berdamai’ dengan pekerjaannya. Bahkan kini Rochani telah menganggap para pasien jiwa sebagai keluarga sendiri.

“Setiap hari saya berinteraksi dengan mereka, saya tahu bagaimana mereka, lambat laun mereka sudah seperti keluarga bagi saya. Bahkan saya sering sedih saat tahu ada pasien jiwa diperlakukan tidak pantas oleh keluarga ataupun masyarakat diluar sana,” jelasnya.

Rochani pun berpesan kepada keluarga pasien jiwa khususnya, dan masyarakat pada umumnya untuk tidak memandang sebelah mata para pasien jiwa.

“Perlakukanlah mereka secara manusiawi karena mereka berhak untuk itu,” tegasnya.

Share this post

No comments

Add yours