Bentengi Anak dengan Ilmu Agama Sejak Dini


Dra. Nyimas Fatria Kurnaeny, Apt., M.Kes

Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSJ Menur

SURABAYA – Anak merupakan pelita harapan bagi kedua orang tuanya. Agar pijar dari pelita tersebut tak redup maka perlu dijaga betul keberadaannya. Hal ini pula yang dilakukan oleh Dra. Nyimas Fatria Kurnaeny, Apt., M.Kes, Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSJ Menur, terhadap ketiga buah hatinya. Nyimas menjaga ketiga buah hatinya dengan ilmu agama sejak dini.

“Mereka mau belajar apa saja saya tidak melarang namun ilmu agama tetap prioritas,” ujarnya saat mengawali pembicaraannya tentang keluarga.

Nyimas memang telah membentengi kedua buah hatinya dengan ilmu agama sejak dini, salah satunya dengan memanggil guru mengaji setiap akhir pekan. “Senin sampai Jumat anak-anak ngaji di TPA, tapi kalau weekend ada guru ngaji yang datang ke rumah. Ilmu agama itu sangat penting karena itu nantinya yang akan menjaga mereka,” tegasnya.

Kini Nyimas bisa berbangga diri melihat ketiga buah hatinya yang telah tumbuh dewasa sesuai harapannya  dan tak neko-neko. Bahkan boleh dibilang ketiga buah hatinya kini telah mereguk sukses dibidangnya masing-masing.

“Alhamdulillah yang sulung mengabdi di sebuah rumah sakit di Sidoarjo, yang kedua memilih jadi instruktur pilot sedangkan yang bungsu telah diterima bekerja di sebuah rumah sakit khusus,” kisahnya dengan wajah berseri-seri.

Nyimas lantas bertutur bahwa peranan orang tua sangat penting dalam mengarahkan anak-anaknya sekaligus menjadi benteng bagi mereka. Tak dapat dipungkiri jika pergaulan diluaran kian hari kian memprihatikan, tak terkecuali dengan jerat narkoba yang mengintai siapa saja. Dan sebagai orang yang pernah mengabdi di Badan Narkotika Provinsi Jawa Timur -yang ditutup akhir tahun 2012- Nyimas paham betul bagaimana awal mula narkoba bisa menjerat seseorang karena salah pergaulan.

“Saya pernah bertugas di Badan Narkotika Provinsi Jatim selama kurang lebih tiga tahun, jadi saya sedikit banyak bersinggungan dengan mereka pengguna narkoba yang memang mayoritas berawal dari lingkungan pergaulan. Bahkan kalau sekarang kita cermati peredaran narkoba di Indonesia sudah sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Nyimas berharap orang tua dapat memaksimalkan perannya dalam melindungi sekaligus mendampingi buah hatinya, menjadi contoh terbaik bagi mereka. Jika anak-anak tumbuh sejak dini dari keluarga yang sehat, lanjutnya, maka niscaya kelak saat dewasa mereka akan menjadi harapan terbaik bagi keluarga.

“Saya bisa berkata demikian karena sudah menerapkan dalam keluarga. Alhamdulillah, anak-anak dapat tumbuh menjadi kebanggaan orang tua,” imbuh nenek dua cucu ini.

Nyimas pun merasa prihatin dengan anak-anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, yang kerap dianggap sebagai aib bagi keluarga. Bahkan keberadaan mereka sebagai pengguna narkoba juga kerap ditutup-tutupi keluarga karena malu.

“Saat anak-anak menjadi korban narkoba, jangan tinggalkan mereka tapi sebaliknya terus dampingi mereka untuk bisa sembuh, lepas dari jerat narkoba. Dukungan dari keluarga sangat penting apalagi untuk memutus hubungan dengan lingkungan yang menyebabkan mereka terjerembab dalam narkoba,” ujarnya.

Menurut Nyimas, korban narkoba dan pasien yang mengalami gangguan jiwa ada sedikit perbedaan. “Kalau pengguna narkoba setelah menjalani rehabilitasi harus diputus dengan lingkungan lamanya, sebaliknya mereka yang mengalami gangguan jiwa setelah menjalani rehabilitasi kembali kepada lingkungannya dan jangan sampai menggangur, mereka harus ada aktivitas (berkarya,red) agar tidak depresi lagi,” simpulnya.

 

Share this post

No comments

Add yours