Suka Duka Petugas Gizi RSJ Menur


Harus Ekstra Sabar Membujuk Pasien yang Mogok Makan

Suciningati saat memberikan konseling gizi kepada pasien.

SURABAYA – Pelayanan gizi rumah sakit merupakan bagian yang sangat vital dari sistem pelayanan paripurna terhadap pasien di rumah sakit. Pelayanan gizi diberikan agar pasien mencapai kondisi yang optimal dalam memenuhi kebutuhan gizi ataupun mengoreksi kelainan metabolisme. Hal ini pula yang menjadi tugas bagi para petugas gizi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Perlakuan khusus pun diberikan kepada para pasien dengan gangguan jiwa.

“Mereka (pasien, red) sangat berbeda dengan pasien di rumah sakit umum kebanyakan, karena bukan hanya sakit fisiknya yang jadi pertimbangan kita dalam merawat mereka tapi juga kondisi psikisnya, dan ini yang sulit ditebak,” jelas Suciningati, Kepala Instalasi Gizi RSJ Menur.

Mengabdikan diri hingga 27 tahun lamanya di RSJ Menur tentunya Suci, demikian ia karib disapa, paham betul bagaimana harus merawat pasien dengan gangguan jiwa. Menurut Suci, mood pasien harus betul-betul diperhatikan saat memberikan asupan makanan kepada para pasien.

“Mereka kerap menolak makanan yang kita berikan, ada yang karena tidak terbiasa dengan jenis makanan yang kita berikan, ada pula yang berhalusinasi kalau makanan itu ada racunnya. Kalau sudah menolak makanan mereka pasti akan mogok makan,” kisahnya.

Terhadap pasien yang mogok makan, Suci dan timnya harus ekstra sabar menghadapinya. Sebab jika mereka dipaksa untuk makan justru akan mengamuk.

“Pelan-pelan kita dekati mereka, kita tanya mau makan apa, dan sebisa mungkin kita turuti permintaan mereka, misalnya inginnya hanya makan roti, ya sudah kita turuti. Nanti kalau emosinya sudah stabil baru kita berikan makanan sesuai dengan kebutuhan gizi mereka. Apalagi kan ada juga pasien yang tidak biasa mengonsumsi susu. Intinya kita harus ekstra sabar menghadapi permintaan pasien,” ujarnya.

Berbagai kejadian menggelikan pun dikisahkan Suci terkait tingkah pola pasien saat jam makan tiba. Mulai dari merebut makanan temannya, merebut tempat makan temannya, hingga memukul-mukul peralatan makannya.

“Macam-macam tingkah pasien, dan lagi-lagi kita harus sabar menghadapinya,” tukasnya seraya tersenyum.

Satu hal lagi yang ditekankan Suci pada timnya saat memberikan makanan pada pasien yakni untuk tidak pernah membelakangi pasien. Ini sebagai antisipasi saat pasien mengamuk. Karena kondisi emosi pasien yang terkadang naik turun.

Perlakuan yang cenderung ‘memanjakan’ pasien ini pun diakui Suci kerap membuat mereka betah berada di RSJ. Mengingat mereka kerap diabaikan oleh keluarganya.

“Orang dengan gangguan jiwa kerap mendapatkan perlakuan yang kurang manusiawi, baik oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya, tapi disini perlakuan berbeda mereka dapatkan termasuk soal makanan. Ini yang membuat mereka betah disini dan malah menolak untuk pulang meski telah dinyatakan sembuh,” paparnya.

Kondisi para pasien tersebut kadang membuat trenyuh petugas gizi RSJ Menur, tak terkecuali Rika Malasari, AMd.Gz. Meski saat awal bertugas di RSJ Menur lima tahun silam, Rika mengaku sempat dibayangi rasa takut, namun setelah setiap hari berinteraksi dengan para pasien RSJ, rasa takut itupun kini sirna.

“Awalnya memang ada rasa takut, karena saya membayangkan pasien dengan gangguan jiwa itu seperti di TV-TV yang digambarkan suka mengamuk dan memukul, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Malah sekarang saya bangga bisa merawat mereka, memberikan asupan gizi terbaik kepada mereka,” ujar wanita berambut sebahu ini.

Share this post

No comments

Add yours