Terus Berinovasi Agar Tak Dipandang Sebelah Mata


DR. drg. Sri Agustina Ariandani, M.Kes, Direktur RSJ Menur

SURABAYA – Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat islam, tak terkecuali bagi DR. drg. Sri Agustina Ariandani, M.Kes. Pada Juni 2017 yang bertepatan dengan momen bulan Ramadan menjadi awal perjalanan baru bagi karir Sri Agustina Ariandani. Ditanggal 2 Juni 2017 Sri Agustina diberikan amanah oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo sebagai Direktur RS Jiwa Menur. Tentu ini menjadi tantangan baru bagi Sri Agustina, mengingat sebelumnya ia adalah seorang wakil direktur di sebuah rumah sakit umum di Surabaya.

“Sebelum disini (RSJ Menur,red) saya ditempatkan di RSU Haji, dari rumah sakit umum ke rumah sakit yang lebih spesifik dalam hal ini jiwa tentu memberikan tantangan tersendiri,” jelas wanita yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur RSU Haji Surabaya bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji ini.

Amanah tersebut bagi Sri Agustina merupakan berkah tersendiri. Berkah karena dengan posisinya yang baru, ia dapat menolong lebih banyak lagi orang yang membutuhkan karena kendali kebijakan rumah sakit berada dipundaknya.

“Saya tidak mau menjadikannya sebagai beban, justru ini adalah berkah karena ada kepercayaan yang lebih besar yang diberikan kepada saya. Teman-teman juga harus mau berubah, kita bersama harus siap menuju perubahan yang lebih baik lagi,” tegasnya seraya tersenyum.

Haru sekaligus trenyuh, inilah yang sempat berkecamuk dalam diri Sri Agustina diawal pengabdian dirinya di RS Jiwa Menur. Bahkan Sri Agustina mengakui sempat menangis saat awal bertugas di RS Jiwa Menur. Ia tak mampu membendung air mata saat melihat pasien jiwa kala itu.

“Kaget,trenyuh, dan sempat nangis juga saat awal bertugas disini karena saya harus bersinggungan dengan mereka yang sakit jiwa, dimana mereka kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Cukup miris bagi saya kondisi mereka,” tutur wanita berhijab ini.

Menyadari tugas yang akan dijalankan bukanlah hal yang mudah, Sri Agustina pun membentuk tim yang kompeten. Bahkan dirinya mengakui tak malu banyak belajar demi memaksimalkan pengabdiannya di RS Jiwa Menur.

“Saya banyak belajar dengan tim, berkomunikasi intens dengan mereka, segala permasalahan yang ada kita bahas bersama. Setiap pagi kita berkumpul setelah apel pagi, kurang lebih setengah jam. Kita diskusikan bersama untuk mencari penyelesaian dari setiap permasalahan yang ada. Saya tidak bisa jalan sendiri tanpa tim yang kompeten, jadinya kita harus kerja tim. Selebihnya pekerjaan ini saya jalani dengan ikhlas hati,” urainya.

Dukungan dari keluarga kian menambah semangat Sri Agustina dalam mengabdi di RS Jiwa Menur. Bahkan sang buah hati yang berprofesi sebagai dokter bedah saraf tak putus memberikan suntikan semangat kepadanya. Tak jarang Sri Agustina berdiskusi dengan sang buah hati, bertukar pikiran tentang ide-ide untuk membangun RSJ Menur menjadi lebih baik lagi. Bahkan muncul keinginan untuk membuka psycho surgery nantinya.

Tak ayal, berkat dukungan dari keluarga, semangat berlipat-lipat pun dirasakan Sri Agustina dalam menjalankan tugasnya.
Ia tak pernah lelah mencari inovasi baru demi kemajuan RSJ Menur. Ini pun masih dilakukannya hingga kini memasuki bulan kedelapan dirinya bertugas di RS Jiwa Menur.

“Di tempat sebelumnya saya kan Wakil Direktur Penunjang Medik dan Diklat, jadi saya masih punya atasan. Tapi kalau sekarang justru saya yang jadi atasan, jadi secara utuh saya yang menjalankan manajemen. Apalagi ini rumah sakit spesifik yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat kita, jadi ada banyak tantangan kedepannya,” imbuhnya.

Berbagai inovasi terus dilakukan Sri Agustina dan timnya juga untuk menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada RS Jiwa Menur. Sri Agustina tak menampik jika rumah sakit tempatnya mengabdi sekarang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.

“Mendengar kata rumah sakit jiwa tentu orang sudah punya pikiran negatif karena dianggap hanya menangani orang-orang gila, padahal kita juga punya pelayanan medis untuk non jiwa dengan fasilitas dan pelayanan yang tidak kalah dengan rumah sakit lain. Nah ini yang menjadi tantangan bagi kita untuk sedikit demi sedikit menghilangkan stigma negatif masyarakat terhadap keberadaan RS Jiwa Menur,” pungkasnya.

Share this post

No comments

Add yours