Dibanding Wanita, Pria Lebih Rentan Idap Gangguan Jiwa


Ilustrasi

SURABAYA – World Health Organization (WHO) pernah mengungkapkan bila sebenarnya wanita lebih rentan terkena gejala stres yang berujung pada depresi daripada pria. Namun sebuah fakta berbeda akan dijumpai saat mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa. Disini akan dijumpai pasien dengan gangguan jiwa lebih banyak didominasi pria. Fakta ini pula yang ‘membantah’ ungkapan WHO tersebut saat mengunjungi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur.

Di rumah sakit milik pemerintah provinsi Jawa Timur ini, pasien pria dengan gangguan jiwa lebih mendominasi. Fakta ini dijumpai di salah satu ruang rawat inap RSJ Menur, Ruang Wijaya Kusuma.

“Kapasitas disini menampung 37 pasien, 15 diantaranya pria sedangkan sisanya wanita,” ungkap Rochani, S.Kep, NS, Kepala Ruang Wijaya Kusuma.

Lebih lanjut Rochani mengungkapkan jika dirinya tak kaget jika pasien gangguan jiwa lebih banyak didominasi pria. Selama 28 tahun mengabdi di RSJ Menur, dirinya paham betul mengapa pria justru lebih rentan mengidap gangguan jiwa.

“Sejak awal bergabung disini sebagai perawat, saya terjun langsung merawat pasien gangguan jiwa, saya jadi paham mengapa pria lebih rentan depresi yang berujung pada gangguan jiwa,” tukasnya.

Pria, lanjut Rochani, cenderung memiliki beban hidup yang lebih dibanding wanita. Perannya sebagai kepala rumah tangga kian menambah beban hidupnya. Ini semakin diperparah dengan kebiasaan kaum pria yang lebih memilih menyimpan sendiri jika sedang ada masalah.

“Beda dengan wanita yang memang lebih gampang terbawa perasaan, lebih suka menangis jika ada masalah atau memilih curhat jika sedang ada masalah. Tapi justru ini yang akan membuat wanita lebih plong jika sedang ada masalah. Kalau pria lebih suka memendam sendiri masalahnya dan ini kian menambah tingkat stresnya,” jelas Rochani.

Sementara itu dari catatan Ruang Wijaya Kusuma, terungkap jika kini tren pasien gangguan jiwa merupakan pria dengan latar belakang usia dewasa produktif yakni usia 20 hingga 30 tahun.

“Penyebabnya macam-macam ya mulai dari faktor keluarga, lingkungan pergaulan, pekerjaan, bahkan ada karena beban pendidikan,” imbuhnya.

Pasien Korban Bullying

Fakta lain yang mengejutkan juga diungkapkan Rochani, yakni adanya pasien gangguan jiwa karena menjadi korban bullying.

Dijelaskan Rochani jika pasien tersebut masih berusia sekolah dan mengalami gangguan jiwa karena bullying dari teman-temannya di sekolah.

“Dia (pasien bullying,red) lebih suka murung, suka menangis, selalu menyendiri, dan selalu berhalusinasi. Kasihan juga karena usianya masih terlalu muda,” ujarnya.

Rochani pun menegaskan tentang arti penting peran keluarga bagi para pasien gangguan jiwa. Mereka dapat sembuh seperti sedia kala apabila mendapat dukungan penuh dari lingkungan terutama keluarganya.

Sementara itu Ruang Wijaya Kusuma sendiri merupakan ruang perawatan khusus bagi pasien gangguan jiwa yang pertama kali datang ke RSJ Menur. Disini mereka akan menjalani masa observasi selama 5 hingga 10 hari.

“Masa observasi tergantung dari kondisi pasien, setelah mereka relatif lebih tenang baru akan dipindahkan ke ruang lainnya untuk mendapatkan terapi lanjutan seperti membuat kerajinan dan lainnya yang dapat mempercepat proses kesembuhannya,” simpulnya.

Share this post

No comments

Add yours