Sediakan Layanan Rawat Inap Pasien Non Jiwa Setara Kelas Satu


Kamar rawat inap untuk pasien non jiwa

SURABAYA – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur terus berinovasi dalam meningkatkan mutu layanan baik untuk pasien jiwa maupun non jiwa. Untuk yang terakhir ini, rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut telah bersiap menyediakan layanan rawat inap untuk pasien non jiwa. Layanan ini nantinya akan berada di lantai dua gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Kita sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk layanan rawat inap pasien non jiwa. Sejauh ini persiapan sudah mencapai 80 persen. Mudah-mudahan di bulan Mei sudah bisa beroperasi,” ujar dr. Ike Sovia Matulessy, Kepala Instalasi IGD RSJ Menur.

Lebih lanjut wanita yang karib disapa dr.Ike ini menuturkan, persiapan yang dilakukan mencakup SDM mulai dari tenaga perawat hingga dokter spesialis, dan juga ruang kamar rawat inap.

“Untuk kamar sudah kita persiapkan 4 ruangan dengan total 12 tempat tidur. Layanan rawat inap ini nantinya akan setara kelas satu dengan fasilitas AC dan kamar mandi dalam,” imbuhnya.

Sedangkan untuk dokter spesialis nantinya akan ada dokter spesialis penyakit dalam, paru, kulit, syaraf, dan jantung. Adapun untuk dokter umum yang siaga akan bertambah dari 5 dokter umum menjadi 8 dokter umum.

Ambulance Penjemputan

Selain tengah mempersiapkan layanan rawat inap pasien non jiwa, RSJ Menur juga telah menghadirkan kembali layanan penjemputan langsung pasien. Terhitung sejak 1 Maret 2018, dua unit ambulance telah disiagakan untuk penjemputan pasien yang berada di seluruh wilayah Jawa Timur.

Armada ambulance penjemputan pasien

“Layanan penjemputan langsung pasien ini tadinya memang sudah ada namun sempat terhenti. Atas banyaknya permintaan masyarakat, layanan ini kami hadirkan kembali,” tukas dokter murah senyum ini.

Ia mengungkapkan jika layanan penjemputan ini tidak hanya untuk pasien jiwa tapi juga pasien non jiwa. Layanan ini hanya tersedia di hari kerja dan pada jam-jam kerja. Dalam penjemputan pasien terdapat dokter dan perawat yang ikut serta.

“Dari hasil evaluasi kita terhadap layanan penjemputan sebelumnya, maka diputuskan jika layanan ini hanya dapat dilakukan pada jam kerja dan hari-hari kerja dengan adanya dokter yang ikut serta menjemput pasien,” pungkas dr. Ike.

Share this post

No comments

Add yours