Lebih Mobile, Pria Rentan Terpapar Narkoba


Dr. Fattyawan Kintono, SpKJ(K)

SURABAYA – Di era modern sekarang ini banyak terjadi pergaulan bebas di kalangan masyarakat utamanya di kalangan remaja. Salah satu masalah terbesar imbas pergaulan bebas tersebut adalah narkoba. Penyalahgunaan narkoba cukup marak dan sangat mudah di dapatkan. Badan Narkotika Nasional (BNN) memprediksi jumlah pengguna narkoba di Indonesia akan terus meningkat. Tahun 2015, diprediksi angka prevalensi pengguna narkoba mencapai 5,1 juta orang.

Pengguna narkoba kebanyakan berasal dari kalangan pria usia produktif. Bahkan di usia yang masih belasan tahun mereka sudah terpapar narkoba. Fenomena ini seperti yang dijumpai di Instalasi Napza RSJ Menur. Dari 18 pengguna narkoba yang direhabilitasi, hanya satu perempuan sedangkan sisanya berjenis kelamin pria.

“Kita merehabilitasi pasien narkoba dengan usia minimal 16 tahun dan yang paling tua berusia 60 tahun. Kebanyakan memang pasien pria yakni sebanyak 17 orang dan hanya satu pasien perempuan,” ungkap Dr. Fattyawan Kintono, SpKJ(K), dokter pelayanan Instalasi Napza RSJ Menur.

Dr. Kintono lantas mengungkapkan jika pria memang lebih rentan terjangkit narkoba mengingat mereka memiliki gaya hidup yang lebih mobile. Dibanding perempuan, dikatakan Dr. Kintono, pria lebih suka keluar malam. Inilah yang dapat menjadi pintu awal ‘perkenalan’ dengan narkoba.

“Kalau sudah keluar malam biasanya kan ada rokok dan minum-minuman keras. Inilah yang menjadi pintu masuknya narkoba,” tegasnya.

Penyalahgunaan narkoba diawali dengan bujukan, tawaran atau tekanan dari teman sepergaulan. Didorong rasa ingin tahu atau ingin mencoba mereka mau menerimanya. Selanjutnya, dari pemakaian sekali kemudian beberapa kali dan akhirnya menjadi ketergantungan terhadap narkoba.

“Akhirnya kan jadi kecanduan, jadilah mereka pengguna narkoba. Kalau sekali terpapar maka akan terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Napza itu penyakit kronik dan sering kambuh. Lihat ada yang makai pasti sudah tidak tahan ingin makai juga,” imbuhnya.

Selain salah pergaulan, masalah ketidakharmonisan hubungan dengan keluarga bisa menjadi awal pemicu seseorang menggunakan narkoba. Mereka memilih lari dari masalah dengan mengonsumi narkoba.

Sementara itu kehadiran korban narkoba di dalam keluarga sering menjadi momok yang sangat menakutkan baik dalam keluarga itu sendiri, lingkungan sekitar bahkan tidak sedikit yang dapat menimbulkan penderitaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar penyalahgunaan narkoba berasal dari keluarga yang tidak sehat dan tidak bahagia.

Salah satu upaya yang sangat penting selain dari pemberantasan dan pemutusan jaringan narkoba adalah tindakan pencegahan agar penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dapat ditekan bahkan dibasmi sampai keakarnya.

“Pencegahan penyalahgunaan narkoba harus dimulai dalam keluarga. Keluarga adalah benteng utama yang dapat mencegah anak–anak dari masalah narkoba. Anak– anak yang tumbuh dengan kasih sayang dan rasa aman, kemungkinan besar tidak akan menyalahgunakan narkoba,” pungkasnya.

Share this post

No comments

Add yours