Delapan Peran dan Fungsi Perawat Kesehatan Jiwa


Abdul Habib, S.Kep,.NS, Ketua Komite Keperawatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur

SURABAYA – Stigma negatif kerap diterima pasien dengan gangguan jiwa. Bahkan gangguan jiwa dapat dianggap sebagai aib bagi keluarga. Tak heran jika ada salah satu anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa maka sebisa mungkin akan ditutup rapat-rapat agar tak diketahui lingkungan sekitar.

“Sangat miris kondisi pasien dengan gangguan jiwa ini. Kalau sakit fisik biasanya akan dijenguk ramai-ramai tapi berbanding terbalik dengan pasien gangguan jiwa. Mereka (pasien gangguan jiwa,red) tidak ada yang menjenguk, dan yang lebih parah lagi ada dari mereka yang justru dipasung oleh keluarganya sendiri,” ungkap Abdul Habib, S.Kep,.NS, Ketua Komite Keperawatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur.

Lebih lanjut Habib mengungkapkan, gangguan jiwa dapat terjadi karena stres yang tidak dikelola dengan baik. Stres akan timbul sebagai imbas padatnya rutinitas utamanya bagi masyarakat perkotaan.

“Masalah perkotaan kerap membuat seseorang stres dan depresi sehingga berujung pada gangguan kesehatan jiwa. Disinilah dibutuhkan support keluarga bagi seseorang dalam menjalankan rutinitasnya,” imbuhnya.

Support keluarga dan lingkungan, lanjut Habib, sangat dibutuhkan dalam memujudkan masyarakat yang sehat fisik dan jiwanya. “Tak terkecuali peran perawat yang sangat penting dalam upaya menurunkan angka gangguan jiwa dalam masyarakat,” tukasnya.

Habib lantas menguraikan, setidaknya terdapat delapan peran dan fungsi perawat kesehatan jiwa dalam masyarakat. Kedelapan peran dan fungsi tersebut yakni, care provider, advocate, educator, counselor, case manager, consultant, collaborator, dan penghubung.

Adapun penjelasan dari kedelapan peran dan fungsi tersebut antara lain:
1. Care provider
Memberi asuhan keperawatan kepada individu, keluarga, komunitas, secara langsung menggunakan tiga tingkat pencegahan yang mencakup primer, sekunder, dan tersier.
“Fokus pelayanannya mulai dari pencegahan terjadinya gangguan jiwa hingga deteksi dini masalah psikososial dan gangguan kejiwaan dengan segera,” ujar Habib.
2. Advocate
Perawat harus tanggap terhadap kebutuhan lingkungannya dan mengkomunikasikan kebutuhan tersebut kepada pemberi layanan secara tepat.
“Perawat harus mampu menggunakan dukungan yang ada dalam masyarakat serta membantu pengambil keputusan pemberi layanan kesehatan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat,” tukasnya.
3. Educator
Perawat bertanggung jawab sebagai pendidik kepada individu, keluarga, dan lingkungan. Perawat harus mampu memberikan informasi melalui pendidikan kesehatan.
4. Counselor
Perawat mendengarkan keluhan pasien secara objektif dan memberikan tanggapan serta membantu pemecahan masalah yang bersangkutan.
5. Case Manager
Perawat dapat mengkaji dan mengidentifikasi kebutuhan kesehatan dalam masyarakat kemudian mengevaluasi dampak dari pelayanan kesehatan yang diberikan.
6. Consultant
Perawat dapat menjadi tenaga professional yang mampu memberikan masukan dalam pengambilan keputusan pelayanan kesehatan.
7. Collaborator
Perawat mampu berkolaborasi dengan tim kesehatan lain, serta pihak terkait dalam memberi pelayanan kesehatan secara komprehensif.
8. Penghubung
Perawat membantu mempertahankan kontuinitas diantara petugas professional dan non professional yang merujuk pada sarana pelayanan kesehatan masyarakat.

Share this post

No comments

Add yours