21 Tahun Mengabdi, Lebih Sulit Merawat ABK


Mas’udah

 

SURABAYA – Menjalani profesi sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur telah dilakoni Mas’udah sejak tahun 1997 silam. Selama 21 tahun pengabdiannya, kini Mas’udah bahkan telah menganggap RSJ Menur sebagai rumah kedua.

“Setiap pekerjaan pasti ada resikonya tapi kalau kita jalani dengan hati niscaya kita akan mencintai dan menjalani dengan sungguh-sungguh pekerjaan itu,” tegas wanita berkacamata ini.

Mas’udah lantas berkisah, awal bertugas di RSJ Menur, ia ditempatkan di ruang rawat inap pasien laki-laki. Berbekal ilmu saat menjalani pendidikan di RS Lawang, Mas’udah pun tak merasa kesulitan menjalani hari-harinya sebagai perawat pasien dengan gangguan jiwa (ODGJ, red).

Suka duka ia rasakan saat mengabdi di RSJ Menur. Di awal pengabdian sebagai perawat di RSJ Menur, Mas’udah mengaku sempat mengalami kejadian tak mengenakan yang harus ia terima dari pasien.

“Kacamata saya sempat dirusak pasien. Jadi kacamata saya diambil terus diputus,” kisahnya seraya tergelak.

Kejadian itu dialami Mas’udah saat ditempatkan di rawat inap pasien perempuan. Peristiwa yang dialami tersebut diakui Mas’udah sempat membuatnya shock.

“Agak shock juga, kaget, tapi saya juga salah karena kurang waspada. Saya agak lengah ketika ditempatkan di rawat inap pasien perempuan. Saya pikir pasien perempuan gak akan jahil tapi saya malah jadi korban usil pasien,” tuturnya.

Menurut Mas’udah, kewaspadaan memang harus dimiliki setiap perawat pasien ODGJ untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan mengingat pasien yang dirawat tak sedikit yang bertingkah usil.

“Sebenarnya mereka tidak bermaksud jahat, tapi kadang usil juga,” ujarnya seraya tersenyum.

Setelah 11 tahun merawat pasien jiwa dewasa, Mas’udah pun ditempatkan di Tumbuh Kembang Anak (Tumbang,red) yang lebih fokus menangani pasien anak berkebutuhan khusus (ABK,red). Bagi Mas’udah penempatan disinilah justru yang paling sulit dilakukan selama pengabdiannya di RSJ Menur.

“Lebih susah kalau kita menangani pasien anak ABK karena harus menjaga perasaan orang tua mereka. Orang tua anak ABK perasaannya sangat sensitif dan itu yang harus diperhatikan,” tukasnya.

Sempat kembali merawat pasien jiwa dewasa, akhirnya Mas’udah secara permanen ditempatkan di Tumbang pada 2015. Kini hari-harinya berkutat dengan anak berkebutuhan khusus dan tentu saja para orang tuanya.

“Saya sering trenyuh melihat anak-anak berkebutuhan khusus itu. Sebisa mungkin kita harus sabar merawat mereka karena mereka butuh perhatian khusus,” pungkasnya.

Tags Mas'udah

Share this post

No comments

Add yours