Waspadai, Lansia Lebih Beresiko Depresi


Ilustrasi

SURABAYA – Populasi usia lanjut (lansia) di Indonesia semakin meningkat, baik dari segi jumlah maupun proporsinya. Bahkan diperkirakan pada 2025, proporsi usia lanjut di Indonesia mencapai 13,1 persen atau sekitar 27 juta jiwa. Di sisi lain, masalah kesehatan pada mereka yang berusia lanjut, secara kuantitatif dan kualitatif sangat kompleks dan membutuhkan perhatian khusus.

Dr. Esther Haryanto, Sp.KJ, Kepala Instalansi Rawat Inap RSJ Menur mengungkapkan, depresi dan demensia menjadi dua masalah kesehatan yang paling banyak diderita kelompok lansia. “Disini (RSJ Menur,red) kasus yang paling banyak dijumpai pada kelompok lansia adalah depresi dan demensia. Depresi paling tinggi, kemudian disusul demensia,” jelasnya.

Selain tidak ada lagi karir dan pekerjaan rutin, kematian orang yang dicintai, kesendirian, masalah medis, juga dapat menyebabkan depresi di kalangan lansia. Depresi membuat orang tidak lagi dapat menikmati hidup seperti dulu. Hal ini juga berdampak pada energi, pola tidur, nafsu makan, dan kesehatan fisik.

“Depresi pada orang muda umumnya bisa cepat diidentifikasi oleh anggota keluarga. Tetapi, depresi pada orang tua, bisa menampilkan gejala yang berbeda dan bisa membingungkan karena gejala-gejalanya kadang sama dengan masalah kesehatan lainnya,” paparnya.

Itulah mengapa penting untuk berada di sekitar orang-orang tua di keluarga dan menawarkan mereka mendukung secara emosional dan medis. Karenanya Anda perlu mengenali gejala dan apa penyebab depresi pada orang tua.

Menurut dr. Esther larangan beraktivitas dan bersosialisi bagi orang tua, justru bisa memicu depresi itu sendiri. Karena itu, doronglah orang tua agar tetap punya kegiatan. Konkretnya, Anda bisa mencegah dan membantu mengatasi depresi orang tua Anda dengan mendorongnya melakukan:
1. Olahraga. Aktivitas fisik sesuai kemampuan memiliki efek yang kuat untuk meningkatkan suasana hati. Bahkan, penelitian menunjukkan mungkin sama efektifnya dengan obat antidepresan.
2. Berhubungan dengan orang lain, bertemu langsung bila memungkinkan. Mendapatkan dukungan dari orang lain, memainkan peran besar dalam mengangkat kabut depresi. Mulailah bergabung dengan kelompok pendukung untuk depresi, klub buku, atau kelompok hobi dan minat lainnya.
3. Tidur yang cukup. Bila tidak mendapatkan cukup tidur, gejala depresi bisa lebih buruk. Tidurlah tujuh sampai sembilan jam setiap malam.
4. Mempertahankan pola makan yang sehat. Hindari makan terlalu banyak gula dan junk food. Memilih makanan sehat yang memberikan nutrisi dan energi, dan mengonsumsi multivitamin setiap hari.
5. Belajar keterampilan baru. Biarkan orang tua memilih keterampilan apa yang dia sukai dan mampu lakukan.
6. Selalu riang. Tertawa memberikan dorongan suasana hati. Bertukar cerita lucu dan lelucon dengan keluarga dan teman, menonton film komedi, atau membaca buku yang lucu.

Share this post

No comments

Add yours